Alat musik tradisional Karangasem yang satu ini memang mulai jarang dikenal. Namun, seorang perajin menuli di kabupaten Karangasem, tetap bisa bertahan eksis hingga sekarang. Sejak tahun 1960, I Wayan Rai memang telah aktif memproduksi alat musik menuli. Kini, walau telah memasuki usia senja, Wayan Rai yang bertempat tinggal di banjar taman, desa Karangasem, tetap melakoni profesinya. Selain karena memang tidak ada penerus lain yang mewarisi kemampuannya membuat menuli, permintaan pesanan akan alat musik ini terus saja mengalir. Untuk membuat satu perangkat alat musik menuli, diperlukan waktu 1 Minggu. Begitu bagian badannya selesai dan diberi bahan pengilap, langkah selanjutnya adalah memasang 9 buah senar dan touch wat. Bagian ini memang yang paling rumit. Pengerajin I Wayan Rai mnejelaskan, dirinya seringkali kesulitan memperoleh bahan utama, yakni kayu jati dan pinus, serta kuningan untuk bagian touch wat. Satu menuli dihargai 700 ratus ribu rupiah, dan pemasarannya dilakukan ke tenganan, Denpasar, bahkan sampai diekspor hingga ke Jepang. Selain dipakai sebagai pelengkap gong, menuli juga sangat menarik sebagai cindera mata. Para pemesan bisa menambahkan nama instansi mereka pada bagian kepala alat musik ini. Eka Winarta, dewata tv
Related posts:


















